Rumah Gadang

Rumah gadang merupakan rumah adat suku minangkabau

Lembah Anai

Merupakan suatu kawasan yang telah menjadi cagar alam propinsi Sumatera Barat

Lembah Harau

Merupakan nagari di Kab.50 Kota yang dikelilingi oleh ngarai dan air terjun dengan pemandangan yang menakjubkan

Jam Gadang

Jam Gadang sebagai salah satu icon wisata sumatera barat

Istana Pagaruyung

Istana Pagaruyung, salah satu peninggalan kejayaan kerajaan Minangkabau

Showing posts with label wisata minang. Show all posts
Showing posts with label wisata minang. Show all posts

Janjang 40 Bukittinggi

Pesona Janjang 40 Kota Bukittinggi

Bukittinggi terkenal sebagai Kota Wisata di Sumatera Barat dengan beberapa objek wisatanya yang terkenal, seperti Jam Gadang, Ngarai Sianok dan Lubang Japang. salah satu objek lain yang tak kalah terkenal adalah Janjang 40.

Pasa Pabukoan

Pasa pabukoan merupakan salah satu ajang yang menjadi trend pada bulan ramadhan. Banyak daerah yang menggalakkan bahkan melahirkan pasar-pasar pabukoan baru untuk mendorong gerak perekonomian daerahnya.

Tradisi 'Ramadhan' di Ranah Minang

Tradisi Masyarakat Minang

Berbagai macam tradisi yang dilakukan umat Islam menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Di Ranah Minang, ada beberapa tradisi yang sampai saat ini masih hidup dan dilaksanakan dalam masyarakat.
Beberapa tradisi yang ada di kalangan orang minang sebelum/ dalam bulan ramadhan antara lain :

- Ziarah kubur

Ziarah kubur merupakan tradisi dimana keluarga yang ditinggalkan bersama-sama mendatangi dan membersihkan makam keluarganya.
Pada beberapa daerah, ziarah kubur dilaksanakan serentak oleh suatu kaum atau masyarakat dan diiringi acara makan bersama setelah kegiatan membersihkan kubur. Acara ini juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi dan saling memaafkan sebelum memasuki ramadhan.

- Balimau

Balimau merupakan tradisi yang bernuansa religious di Minangkabu pada masa dahulu hingga sekarang. Biasanya tradisi ini dilakukan selang satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. BALIMAU dalam terminologi orang Minang adalah mandi menyucikan diri dengan limau (jeruk nipis), ditambah ramuan alami beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu, yang semuanya direndam dalam air suam-suam kuku. Lalu, dibarutkan (dioleskan) ke kepala. “Ramuan tradisional untuk balimau tersebut adalah warisan turun-temurun sejak dulunya, sejak puluhan tahun lalu bahkan konon sejak ratusan tahun lalu.
Namun yang disayangkan saat ini banyak masyarakat minang pergi ke tempat pemandian umum tanpa pemisahan laki-laki dan perempuan, tanpa memaknai apa arti dari balimau tersebut.
Filosofi Balimau sendiri adalah usaha untuk mensucikan lahir dan batin untuk memasuki bulan ramadhan, supaya ibadah puasa dapat dilaksanakan dengan hati yang bersih dan suci.


- Manjalang Mintuo

Manjalang Mintuo, merupakan tradisi silatuhrami dimana menantu perempuan yang baru saja menikah mengantarkan hidangan tertentu ke rumah mertuanya.
Tradisi ini biasanya dilakukan beberapa hari menjelang puasa.

Tradisi Manjalang Mintuo merupakan tradisi turun temurun orang minang dalam bersilaturahmi ke rumah mertua. Yakni dengan membawa makanan yang salah satunya adalah lemang, yang biasanya disajikan dengan kue dan agar- agar.
 

- Maanta pabukoan
Tradisi Ma anta pabukoa merupakan tradisi dimana menantu perempuan mengantarkan hidangan kepada mertuanya sebelum waktu berbuka dalam bulan ramadhan.
Tradisi ini sebenarnya memiliki nilai filosofis tinggi karena merupakan sarana untuk mempererat hubungan antara menantu perempuan dengan mertuanya.

- Mambantai 

Membantai/ mambantai adalah suatu tradisi yang dilakukan masyarakat untuk menyembelih sapi atau kerbau. Biasanya sekelompok warga akan berkongsi membeli sapi atau kerbau kemudian dagingnya akan dibagi-bagikan sama rata kepada warga yang ikut urunan. Daging tersebut dimasak dan dimakan saat menyambut puasa. Karena Ramadhan adalah bulan yang khusus bagi umat muslim, maka hidangan untuk menyambut puasa juga akan dibuat spesial. Seiring waktu, istilah ini semakin jarang terlihat dan hanya ada di beberapa tempat di ranah minang.

Ada yang punya pengalaman unik/ berkesan dengan salah satu tradisi diatas... :-)

* dari berbagai sumber

Tambua Pupuik Batang Padi

Tambua Pupuik Batang Padi merupakan alat musik gendang tradisional Minangkabau khususnya di Kabupaten Agam. Tambua Pupuik Batang Padi dimainkan oleh Minimal 10 (sepuluh) orang penabuh dengan pakaian adat Minangkabau.

Peralatan yang digunakan dalam Tambua Pupuik Batang Padi adalah :

1. Tambua

Tambua terbuat dari tabung kayu berukuran besar. Tingginya sekitar 40 – 50  cm dengan garis tengah  35 – 45 cm. Untuk ketebalan kayu dapat divariasi agar tercipta bunyi-bunyian yang berbeda. Namun, biasanya berukuran 1,5 sentimeter sehingga terdengar bunyi nyaring dari kapsul kayu itu. Tabung itu ditutup dengan kulit kambing pada kedua sisi yang dikencangkan lilitan tali.
Dalam setiap permaianan, bila tambua  berjumlah 7 buah , maka 4 buah tambu  dipukul dengan nada dasar (umpang–umpang), dan 3 tambua dipukul untuk meningkah, bila tambua berjumlah 9 buah , maka 5 buah tambua dipukul dengan nada dasar (umpang–umpang ), dan 4 tambua dipukul untuk meningkah.
Menurut pameo orang tua dulu,  jumlah tambua tidak boleh genap melainkan ganjil (minimal 7 buah).

2. Talempong  2 (dua) pasang

Adalah sebuah alat musik pukul khas suku bangsa Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, namun ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan. Talempong ini berbentuk bundar pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda. Bunyi dihasilkan dari sepasang kayu yang dipukulkan pada permukaannya.

3. Kitak / Gadabiak

Merupakan sejenis rapaih / rebana namun berbeda biasanya, bubutan kayu pada kitak serta ketebalan  tabung agak lebih dibanding dengan rebana

4. Pupuik Batang Padi

Alat tiup yang terbuat dari jerami yang dibuat khusus, untuk pelantang suara pupuik digunakan jalinan daun kelapa berbentuk kerucut (seperti terompet). Pupuik ini merupakan komando mulai dan selesai serta mengatur tempo permainan tambu untuk menciptakan permainan yang harmoni.
Proses pembuatan pupuik (puput) batang padi terhitung sederhana. Batang padi yang sudah tua dipecah secara hati-hati di dekat pangkal bukunya. Pecahan batang itu akan membentuk semacam pita suara yang menjadi sumber bunyi. Jika ditiup, pita suara itu akan mengeluarkan bunyi yang melengking.
Untuk membuat suaranya semakin melengking dan menambah jangkauan bunyinya, batang padi dapat disambung pada lintingan daun pandan atau kelapa yang membentuk corong seperti terompet. Batang padi yang sudah disambung dengan lintingan daun pandan disebut pupuik laole.
Pada dasarnya, pupuik batang padi merupakan instrumen bernada tunggal. Tetapi dengan beberapa modifikasi, instrumen ini dapat mengeluarkan alunan irama yang unik. Modifikasi itu dapat dilakukan dengan melubangi batang padi di beberapa titik yang berfungsi layaknya lubang pada seruling.

Tambua Pupuik Batang Padi biasa digunakan untuk Maharak Anak Daro / Marapulai pada prosesi adat perkawinan di Kabupaten Agam. Tambua ini tidak dimiliki oleh seluruh  kecamatan yang ada di Kab. Agam. Cabang seni ini hanya dapat dijumpai di Kecamatan Tanjung Raya, Matur dan Palembayan.

sumber :
Agam.go.id

Rumah Gadang ; Bangunan Arsitektur Tinggi dari Ranah Minang

Rumah Gadang merupakan salah satu dari sekian banyak hasil peradaban kebudayaan, dan seni tradisi yang mengisi keragaman arsitektur tradisional di Indonesia. Rumah adat ini merupakan simbol arsitektur yang dimiliki oleh suku Minangkabau. Rumah gadang bagi masyarakat Minangkabau dimiliki oleh suatu keluarga atau kaum dan simbol tradisi matrilineal dimana rumah gadang didominasi oleh kaum perempuan dan garis keturunan perempuannya.

Gambar : Istana Pagaruyung (April, 2015)

Fungsi Rumah Gadang adalah sebagai tempat tinggal bagi garis keturunan matrilineal dan juga sebagai tempat melaksanakan kegiatan adat dan ritual di Minangkabau. Bangunan ini, dapat kita temukan biasanya dimiliki oleh suatu keluarga atau suatu kaum. Bangunan rumah gadang yang dimiliki oleh suatu Keluarga biasanya berukuran lebih kecil daripada yang dimiliki oleh suatu kaum. Karena rumah yang dimiliki oleh suatu kaum, mempertimbangkan untuk menampung gabungan keluarga yang memiliki satu garis keturunan / suku di Minangkabau.

Gambar.  Rumah Gadang Kampai Nan Panjang, Kab. Tanah Datar

Proses perencanaan, pencarian bahan, tata cara membangun, model, materi, bentuk hingga ukiran dari sebuah rumah gadang. Mengandung makna dan filosofi tersendiri, yang menjadi pelajaran dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Pada zaman dahulu hingga sebelum berkembangnya bangunan modern, kompleks Rumah Gadang biasanya memiliki dua hingga enam buah rangkiang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi milik keluarga atau kaum yang menghuni di Rumah Gadang. Selain itu Rumah Gadang Kaum pada masanya memiliki satu surau kaum yang dipergunakan untuk tempat menuntut ilmu agama dan mengaji.

Rumah Gadang di Minangkabau memiliki tipe dan ragam bentuk yang beraneka ragam. Tipe Rumah Gadang di Minangkabau terdiri dari Rumah Gadang Atok Bagonjong dan Rumah Gadang Atok Tungkuih Nasi. Rumah Gadang bagonjong identik dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau, bahkan menurut beberapa pendapat atap ini mengadaptasi bentuk kepakan sayap garuda yang banyak ditemui diwilayah pedalaman atau wilayah darek. Sedangkan rumah gadang tungkuih nasi identik dengan atap yang menyerupai bungkus nasi, dan rumah gadang ini ditemui di daerah pesisiran.

Gb. Rumah Gadang Tipe Bagonjong

Gb.. Rumah Gadang Tungkuih Nasi

Data penelitian menunjukkan, banyaknya tipe dan ragam rumah gadang yang ditemukan di Minangkabau dilihat dari bentuk atap dan bentuk struktur bangunan. Rumah gadang bagonjong di Minangkabau yang ditemukan adalah rumah gadang gajah maharam, rumah gadang gonjong ampek siba baju, rumah gadang gonjong anam, rumah gadang gonjong batingkek, rumah gadang surambi Aceh, rumah gadang surambi Aceh bagonjong ciek, rumah gadang surambi aceh bagonjong duo, rumah gadang surambi papek, rumah gadang surambi papek batingkok, rumah gadang bagonjong limo atau biasa disebut dengan rumah gadang rajo babandiang, rumah gadang gonjong limo batingkek, rumah gadang bagonjong ampek baanjuang, rumah gadang gonjong anam baanjuang, rumah gadang lontiak bagonjong duo, bahkan rumah gadang diMinangkabau juga memiliki atap gonjong terbilang angka ganjil seperti gonjong lima dan gonjong tiga.

Sedangkan rumah gadang tungkuih nasi konstruksi atapnya berbentuk bungkus nasi. Tipe ini banyak terdapat di Pariaman. Masih termasuk ke dalam tipe konstruksi tungkuih nasi, namun sedikit memiliki ciri khas berbeda adalah rumah gadang yang terdapat di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan adalah rumah gadang Kajang Padati. Rumah gadang Kajang Padati memiliki atap yang lentik atau biasa disebut dengan gonjong tak sampai. Bentuk atap rumah gadang Kajang padati mendekati bentuk atap rumah gadang lontiak bagonjong duo. bentuk atap arsitektur tradisional Aceh dan juga bentuk atap arsitektur tradisional Batak di Sumatera Utara. Adanya tipe rumah gadang Kajang Padati merupakan bentuk perjalanan sejarah, dimana perubahan bentuk atap rumah gadang terjadi karena adanya peristiwa sejarah, ketika Kerajaan Aceh menguasai pesisir barat Minangkabau sehingga membawa pengaruh pada bentuk bangunan yang dibuat.

Gb..Rumah Gadang atap Kajang Padati

Selain itu, di Minangkabau tipe terdapat  tipe bentuk rumah gadang yang dipengaruhi oleh adanya  sistem dari  sistem demokrasi yang berkembang. Paham demokrasi yang dianut di Minangkabau yaitu “Lareh Koto Piliang” yang dikembangkan oleh Datuak Katumangguangan, Lareh Bodi Caniago yang dikembangkan oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Lareh Nan Panjang yang dikembangkan oleh Datuak Sri Maharajo Nan Banego – Nego (Datuak Sikalab Dunie). Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Caniago merupakan  sistem demokrasi awal yang berkembang di Minangkabau. Lareh Koto Piliang dalam ungkapan adat menganut paham “Bajanjang naiak, batanggo turun” yang berarti hirarki dan vertical,   Lareh Bodi Caniago dalam ungkapan adat menganut paham “Duduak randah, tagak samo tinggi” yang berarti egaliter dan horizontal dan Lareh Nan Panjang merupakan paham yang lahir dengan menganut paham  sistem demokrasi yang telah terlebih dahulu muncul. Seperti yang berbunyi dalam ungkapan adat “Pisang Sikalek kalek Hutan, Pisang Tambatu Nan Bagatah, Koto Piliang inyo bukan, Bodi Caniago inyo antah” yang dalam bahasa Indonesia berbunyi “Pisang Mentah Hutan, pisang batu yang bergetah, Koto Piliang dia bukan, bodi caniago dia tidak”. Dengan adanya  paham awal yang masing – masing menganut paham hirarki dan egaliter. Mempengaruhi bentuk rumah gadang yang dimiliki oleh keluarga atau kaum di Minangkabau. Sangat mudah dilihat perbedaan rumah gadang apabila dibedakan berdasarkan paham demokrasi yang dianut. Paham sistem demokrasi Lareh Koto Piliang rumah adatnya bercirikan adanya tingkatan – tingkatan (baanjuang) pada lantai rumah yang pada fungsi masing – masing tingkatan menjelaskan kedudukan seseorang di keluarga atau kaum. Semakin tinggi tempat duduk seseorang semakin tinggi kedudukannya. Contoh yang dapat kita lihat jelas adalah ikon wisata Sumatera Barat, yaitu Istano Basa Pagaruyung. Sedangkan paham demokrasi lareh Bodi Caniago bentuk rumah gadangnya bercirikan lantai yang datar.

Gb. Rumah Gadang Lareh Koto Piliang

Ditandai dengan tingkatan pada lantai atau baanjuang

Gb. Rumah Gadang Lareh Bodi Caniago.

Ditandai dengan lantai yang sama datar.

Dengan adanya tipe rumah gadang yang dilihat dari tipe atap dan bentuk struktur bangunan menambah kekakyaan khasanah ragam budaya Minangkabau. Keragaman terjadi oleh faktor wilayah alam, hasil kebudayaan hingga pengaruh kekuasaan yang terjadi pada masanya.

Pada masa lalu, atap rumah gadang dibuat dari bahan ijuk, dinding, lantai dan tonggak diperoleh dari kayu yang berkualitas tinggi untuk menjaga kualitas rumah gadang. Pada prosesnya, kayu yang dipilih direndam dalam waktu yang lama di dalam lumpur untuk menjaga ketahanan rumah gadang. Salah satu kayu dirumah gadang akan mendapat nama dan kedudukan istimewa. Dikenal dengan “Tonggak Tuo” yang merupakan tonggak pertama yang diambil dari sekian banyak tonggak yang akan menopang rumah gadang.

Selain memiliki keragaman dalam bentuk dan tipe. Rumah Gadang juga memiliki ragam keunikan yaitu rumah tradisional ini tidak memakai paku dalam menyambung kayunya, selain itu pada dasar rumah gadang terdapat sandi dari batu yang bertujuan untuk membuat rumah gadang tahan akan getaran. Keunikan ini merupakan hasil pemikiran nenek moyang untuk mampu bertahan dari keadaan alam dan wilayah yang keras. Bentuk rumah gadang sangat memperhitungkan penyesuaian dengan kondisi alam. Seperti harus tahan dari angin (dapat dilihat pada konstruksi bangunan atap bagonjong dan kemiringan membangun rumah gadang) serta memiliki aliran angin dibawah bangunan atau biasanya disebut panggung yang juga dimiliki oleh banyak bangunan arsitektur tradisional Indonesia lainnya. Selain itu untuk mampu menahan getaran (dapat kita ketahui saat ini Sumatera merupakan jalur patahan lempeng terbesar di Indonesia) hasil konstruksi rumah gadang adalah tidak adanyanya pemakaian paku dalam rumaha gadang, cara yang dipakai adalah menyambung kayu untuk membentuk struktur bangunan dan juga adanya pemakaian batu sebagai sandi dari tonggak penyambung ke tanah yang bertujuan untuk menahan dari getaran. Yang telah menjadi hasil penelitian dunia, bahwasanya rumah gadang merupakan arsitektur anti gempa.

Gb. Sandi Batu. Penopang tonggak rumah gadang

Dalam pembangunan rumah gadang, yang saya ketahui biasanya melalui banyak proses yaitu musyawarah untuk merencanakan membangun rumah gadang, melaksanakan gotong royong bersama mencari bahan, dan membangun secara bergotong royong. Proses yang dilakukan melalui prosesi adat yang berlaku.


Gb. Gotong Royong pembangunan rumah gadang. Prosesi Batagak Tonggak Tuo

Selain mengandung fungsi, makna, dan filosofi dari proses pembangunan. Tatacara ketika berada di rumah gadang sudah diatur dalam adat Minangkabau. Salah satunya adalah posisi duduk ketika ada suatu prosesi adat. Duduk dirumah gadang tidak boleh sembarangan, karena posisi – posisi duduk telah diatur sesuai dengan kedudukan dalam sebuah keluarga atau kaum.

Rumah Gadang merupakan salah satu hasil peradaban kebudayaan Nusantara yang menjadi poros terpenting yang membentuk masyarakat Minangkabau. Rumah Gadang adalah rumah adat tradisional masyarakat Minangkabau yang memiliki makna , filosofi, dan ilmu pengetahuan.


Gb. Prosesi Batagak Pangulu yang dilakukan di rumah gadang.

Hingga saat ini, hampir disemua daerah di Sumatera Barat (basis utama etnis minangkabau) masih bisa dijumpai rumah gadang tua yang masih terjaga. Selain rumah gadang tua, kita juga masih bisa menemukan rumah gadang dalam bentuk rumah gadang keluarga lama yang sebenarnya adalah rumah tempat tinggal sebuah keluarga yang mengadaptasi bentuk rumah gadang seperti yang banyak terdapat di Kabupaten Limo Puluh dan di Kota / Kabupaten Solok.


Gb. Deretan rumah gadang di Nagari seribu rumah gadang kabupaten Solok Selatan.

Kondisi rumah gadang saat ini sebagai salah satu poros terpenting yang membentuk masyarakat Minangkabau sudah mulai ditinggalkan, sama halnya dengan kondisi rumah tradisional yang terdapat di seluruh Indonesia. Dengan berbagai factor rumah tradisional sudah mulai perlahan hilang, mulai dari susahnya mencari bahan, biaya perawatan, kerumitan hingga tergerus oleh perkembangan zaman.


Kata Kunci : Rumah Gadang, Minangkabau, Sumatera Barat

Glossary :
  • Gadang : Besar
  • Kaum : Kelompok/Keluarga garis matrilineal
  • Matrilinial : Garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu.
  • Bundo Kanduang : Berasal dari kata Bundo artinya Ibu, kanduang artinya kandung. Yang berarti ibu kandung. Di Minangkabau setidaknya terdapat  versi dari istilah Bundo Kanduang. Pertama Bundo Kanduang menurut cerita kaba, kedua Bundo Kanduang sebagai nama organisasi perempuan di Sumatera Barat dan ketiga versi masyarakat adat Minangkabau.
  • Limpapeh : dalam artian harfiah adalah kupu – kupu yang berwarna putih
  • Rangkiang : lumbung / tempat menyimpan padi di Minangkabau
  • Surau : tempat mengaji dan belajar adat di Minangkabau
  • Atok : atap
  • Bagonjong : berbentuk seperti tanduk
  • Tungkuih : bungkus
  • Darek : merupakan wilayah inti gabungan dari tiga wilayah luak (luhak) yang disebut luhak nan tigo. Luhak adalah merupakan daerah awal bermukim / tanah asa (tanah asal)masyarakat dan daerah awal perkembangan peradaban adat dan kebudayaan Minangkabau
  • Maharam : jongkok
  • Ampek : empat
  • Siba : pisah
  • Anam : enam
  • Batingkek : bertingkat
  • Surambi : serambi
  • Ciek : satu
  • Duo : dua
  • Papek : sejajar, berdekatan
  • Batingkok : mempunyai kata dasar tingkok yang berarti tutup
  • Limo : lima
  • Rajo : raja
  • Babandiang : (ber)banding
  • Baanjuang : tingkatan lantai dalam satu level
  • Kajang : anyaman dr bambu (daun nipah, mengkuang, dsb) untuk atap untuk pedati
  • Padati : pedati
  • Lareh : kata dasar yang dipakai untuk kalarehan (kelarasan)
  • Tonggak Tuo : tonggak Pertama
  • Nagari : desa

Sumber :

- http://www.goodnewsfromindonesia.org
- Asro Suardi. "Inventarisasi rumah gadang di Minangkabau".
- Amir .M.S. Masyarakat Adat Minangkabau Terancam Punah. PT.Mutiara Sumber Widya.
- Ahmad DT.Batuah dan A.DT.Majoindo. Tambo Minangkabau dan Adatnya. Balai Pustaka.
- Mahmoed.BA., A. Manan Rajo Pangulu. Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah.
- wikipedia

Tradisi Mancari Bilalang

Kanagarian Sumpur Kudus – Sijunjung

Ketika musim panen selesai, petani-petani di Jorong Taratak Tangah dan beberapa daerah di Kabupaten Sijunjung sering melakukan suatu tradisi unik, yaitu mencari belalang yang biasa dilakukan di pagi hari atau ketika malam tiba. Belalang ini bisa dijadikan lauk yang gurih untuk dinikmati keluarga keesokan harinya. Salah satu kuliner unik di Sumpur Kudus adalah sambal randang bilalang, yang tahan disimpan sampai 1 bulan & kerap dijadikan lauk pauk pelajar yang menuntut ilmu di tempat lain atau untuk dunsanak yang bermukim di perantauan.


Kebiasaan ini juga sebagai penambah penghasilan bagi para petani di daerah Sijunjung, dimana belalang yang berhasil ditangkap di jual di pasar kampung di daerah tersebut.

Selain tradisi mencari bilalang, di daerah ini anda juga dapat baziarah ka makam Syekh Ibrahim yang menyebarkan agama Islam di daerah ini pada abad ke-15 serta mengunjugi mesjid dan makam Rajo Ibadat Sultan Alif.
Selain itu di daerah ini juga terdapat air terjun Lubuak Pandakian yang berair jernih yang dihiasi panorama Bukik Lantiak yang menyajikan gugusan bukit Sangkak Ayam, Gunung Sago, Gunung Merapi serta Gunung Talang.

Bagi yang suka berpetualang, bisa menjajal kemampuan tracking dan bermalam di hutan Lisun yang masih asri dengan menggunakan penunjuk jalan di kampung tersebut. Bagi yang suka dengan wisata budaya, ada kesenian talempong Unggan, Tari Piriang, Tari Pijak Galeh, Randai dan Canang bisa jadi pilihan. Dan sebagai buah tangan ada kain tanun Unggan.

sumber :
- armen zulkarnaen
- beberapa sumber lainnya

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang merupakan salah satu landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia dan telah menjadi  Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).

Jam gadang dari masa ke masa






Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan diatasnya berdiri patung ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.
Dari menara Jam Gadang, para wisatawan bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.

Saat ini daerah seputaran jam gadang sudah menjadi pusat perbelanjaan dan wisata Kota Bukittinggi yang selalu ramai tiap harinya.

sumber :
bukittinggi.go.id
wikipedia