Showing posts with label Bangunan minang. Show all posts
Showing posts with label Bangunan minang. Show all posts
Rumah Gadang 13 Ruang - Sijunjung
Rumah gadang ini adalah warisan leluhur nagari lubuk tarok Kabupaten Sijunjung. dimana rumah gadang ini bernama Rumah Gadang Dalimo dari suku Dalimo Sungai Jodi, berdampingan dengan kantor Wali Nagari lubuk tarok Kabupaten Sijunjung, Rumah Gadang 13 Ruang yang terdapat di Jorong Sungai Jodi Kenagarian Lubuk Tarok merupakan rumah gadang kaum suku Dalimo Kenagarian Lubuk Tarok Kecamatan Lubuk Tarok Kabupaten Sijunjung, berlokasi di pinggir jalan raya antara Muaro-Lubuk Tarok, dengan jarak sekitar 28 km dari Muaro, atau sekitar 156 km dari Bandara Internasional Minang Kabau.
Sebagaimana halnya sebuah rumah gadang, bangunan ini terdiri dari kayu pilihan, dengan atap ijuk (sekarang sudah atap seng), tiang dan perkayuan penyanggah berasal dari kayu kulin dan meranti merah. Dinding suyok (rusuk red) terdiri dari papan susun berdiri sedangkan dinding badan rumah dari papan yang bersusun mendatar.
Rumah Gadang 13 Ruang dibangun oleh Suku Dalimo. Pertanggalan dari pembangunan rumah gadang tersebut tidak diketahui secara pasti. Berdasarkan cerita yang diperoleh secara turun temurun dari generasi ke generasi, semula rumah gadang tersebut terdiri dari 17 ruang. Pengurangan dari 17 ruang menjadi 13 ruang ini tidak diketahui dengan pasti kapan dan apa penyebabnya.
Foto : FB Zora N
Fungsi semula dari Rumah gadang ini adalah sebagai tempat tinggal keluarga-keluarga dari Suku dalimo, selain itu juga berfungsi sebagai tempat untuk baralek nagari. Pada waktu terjadi peristiwa PRRI rumah gadang ini dibongkar sebagian dinding dan lantainya dengan tujuan agar tidak turut dibakar oleh pemberontak PRRI. Sejak terjadinya pembongkaran itu maka sekarang rumah gadang 13 ruang itu dihuni oleh hanya atu keluarga saja yang sekaligus bertugas sebagai penunggunya.
ref :
- http://www.visitsijunjung.com
ref :
- http://www.visitsijunjung.com
Rumah Gadang Sebagai Bangunan Tahan Gempa
Rumah Gadang merupakan rumah adat Minangkabau di Sumatera Barat. Arsitektur Minangkabau dalam bangunan Rumah Gadang memiliki filosofi mendalam. Dari segi kontruksi bangunan rumah gadang mengadopsi teknik bangunan tahan gempa. Para pakar arsitektur selama ini mengenal Rumah Gadang merupakan salah satu bangunan dengan konstruksi tahan gempa.
Tahan gempa ini karena arsitektur Rumah Gadang memiliki keunikan bentuk pada atap yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Bentuk badan rumah segi empat dan membesar ke atas (trapesium terbalik).
foto : rumah gadang balenggek - solok
Atap Rumah Gadang melengkung tajam seperti bentuk tanduk kerbau yang sisinya melengkung ke dalam, sedangkan bagian tengahnya rendah seperti perahu dan secara estetika merupakan komposisi yang dinamis.
Desain bangunan seperti ini menurut para ahli arsitektur merupakan kontruksi bangunan tahan gempa, katanya.
Rumah adat Minangkabau disebut Rumah Gadang (rumah besar), bukan hanya karena bentuk fisiknya yang besar, melainkan karena fungsi dari bangunan adat budaya Minangkabau ini.
Rumah Gadang, disamping sebagai tempat tinggal, juga digunakan sebagai tempat musyawarah keluarga, tempat mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat, dan reprsentasi budaya matrilineal.
Sebagai tempat tinggal, Rumah Gadang memiliki tata aturan yang unik, dimana perempuan yang telah bersuami mendapat jatah satu kamar dan perempuan yang paling muda mendapat kamar yang paling ujung dan akan pindah ke tengah jika ada perempuan lain atau adiknya yang bersuami.
Sedangkan perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur dan gadis remaja memperoleh kamar bersama pada ujung yang lain.
Untuk laki-laki tua, duda, dan bujangan tidur di surau (tempat ibadah suku, red) milik kaumnya masing-masing.
Rumah Gadang juga merupakan tempat bermusyawarah untuk mencari kata mufakat antar anggota keluarga dan tempat untuk membicarakan semua masalah serta dicarikan jalan keluarnya.
Dengan pembagian ruangan ini, maka keselarasan dan keharmonisan antaranggota keluarga dibangun.
Dengan fungsi-fungsi dimilikinya maka tidak heran jika Rumah Gadang sangat dimuliakan, bahkan dipandang suci oleh masyarakat Minangkabau.
Sumber : antaranews
Rumah Gadang ; Bangunan Arsitektur Tinggi dari Ranah Minang
Rumah Gadang merupakan salah satu dari sekian banyak
hasil peradaban kebudayaan, dan seni tradisi yang mengisi keragaman arsitektur
tradisional di Indonesia. Rumah adat ini merupakan simbol arsitektur yang
dimiliki oleh suku Minangkabau. Rumah gadang bagi masyarakat Minangkabau
dimiliki oleh suatu keluarga atau kaum dan simbol tradisi matrilineal dimana
rumah gadang didominasi oleh kaum perempuan dan garis keturunan perempuannya.
Gambar : Istana Pagaruyung (April, 2015)
Fungsi Rumah Gadang adalah sebagai tempat tinggal
bagi garis keturunan matrilineal dan juga sebagai tempat melaksanakan kegiatan
adat dan ritual di Minangkabau. Bangunan ini, dapat kita temukan biasanya
dimiliki oleh suatu keluarga atau suatu kaum. Bangunan rumah gadang yang
dimiliki oleh suatu Keluarga biasanya berukuran lebih kecil daripada yang
dimiliki oleh suatu kaum. Karena rumah yang dimiliki oleh suatu kaum,
mempertimbangkan untuk menampung gabungan keluarga yang memiliki satu garis
keturunan / suku di Minangkabau.
Gambar. Rumah
Gadang Kampai Nan Panjang, Kab. Tanah Datar
Proses perencanaan, pencarian
bahan, tata cara membangun, model, materi, bentuk hingga ukiran dari sebuah
rumah gadang. Mengandung makna dan filosofi tersendiri, yang menjadi pelajaran
dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.
Pada zaman dahulu hingga sebelum berkembangnya
bangunan modern, kompleks Rumah Gadang biasanya memiliki dua hingga enam buah
rangkiang yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi milik keluarga atau
kaum yang menghuni di Rumah Gadang. Selain itu Rumah Gadang Kaum pada masanya
memiliki satu surau kaum yang dipergunakan untuk tempat menuntut ilmu agama dan
mengaji.
Rumah Gadang di Minangkabau memiliki tipe dan ragam
bentuk yang beraneka ragam. Tipe Rumah Gadang di Minangkabau terdiri dari Rumah
Gadang Atok Bagonjong dan Rumah Gadang Atok Tungkuih Nasi. Rumah Gadang
bagonjong identik dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau, bahkan menurut
beberapa pendapat atap ini mengadaptasi bentuk kepakan sayap garuda yang banyak
ditemui diwilayah pedalaman atau wilayah darek. Sedangkan rumah gadang tungkuih
nasi identik dengan atap yang menyerupai bungkus nasi, dan rumah gadang ini
ditemui di daerah pesisiran.
Gb. Rumah Gadang Tipe Bagonjong
Gb.. Rumah Gadang Tungkuih Nasi
Data penelitian menunjukkan, banyaknya tipe dan ragam
rumah gadang yang ditemukan di Minangkabau dilihat dari bentuk atap dan bentuk
struktur bangunan. Rumah gadang bagonjong di Minangkabau yang ditemukan adalah
rumah gadang gajah maharam, rumah
gadang gonjong ampek siba baju, rumah gadang gonjong anam, rumah gadang gonjong
batingkek, rumah gadang surambi Aceh, rumah gadang surambi Aceh bagonjong ciek,
rumah gadang surambi aceh bagonjong duo, rumah gadang surambi papek, rumah
gadang surambi papek batingkok, rumah gadang bagonjong limo atau biasa disebut
dengan rumah gadang rajo babandiang, rumah gadang gonjong limo batingkek, rumah
gadang bagonjong ampek baanjuang, rumah gadang gonjong anam baanjuang, rumah
gadang lontiak bagonjong duo, bahkan rumah gadang diMinangkabau juga memiliki
atap gonjong terbilang angka ganjil seperti gonjong lima dan gonjong tiga.
Sedangkan rumah gadang tungkuih nasi konstruksi
atapnya berbentuk bungkus nasi. Tipe ini banyak terdapat di Pariaman. Masih
termasuk ke dalam tipe konstruksi tungkuih nasi, namun sedikit memiliki ciri
khas berbeda adalah rumah gadang yang terdapat di Kota Padang dan Kabupaten
Pesisir Selatan adalah rumah gadang Kajang Padati. Rumah gadang Kajang Padati
memiliki atap yang lentik atau biasa disebut dengan gonjong tak sampai. Bentuk
atap rumah gadang Kajang padati mendekati bentuk atap rumah gadang lontiak
bagonjong duo. bentuk atap arsitektur tradisional Aceh dan juga bentuk atap
arsitektur tradisional Batak di Sumatera Utara. Adanya tipe rumah gadang Kajang
Padati merupakan bentuk perjalanan sejarah, dimana perubahan bentuk atap rumah
gadang terjadi karena adanya peristiwa sejarah, ketika Kerajaan Aceh menguasai
pesisir barat Minangkabau sehingga membawa pengaruh pada bentuk bangunan yang
dibuat.
Gb..Rumah Gadang atap Kajang Padati
Selain itu, di Minangkabau tipe terdapat tipe bentuk rumah gadang yang dipengaruhi oleh
adanya sistem dari sistem demokrasi yang berkembang. Paham
demokrasi yang dianut di Minangkabau yaitu “Lareh Koto Piliang” yang
dikembangkan oleh Datuak Katumangguangan, Lareh Bodi Caniago yang dikembangkan
oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Lareh Nan Panjang yang dikembangkan oleh
Datuak Sri Maharajo Nan Banego – Nego (Datuak Sikalab Dunie). Lareh Koto
Piliang dan Lareh Bodi Caniago merupakan sistem demokrasi awal yang berkembang di
Minangkabau. Lareh Koto Piliang dalam ungkapan adat menganut paham “Bajanjang
naiak, batanggo turun” yang berarti hirarki dan vertical, Lareh Bodi Caniago dalam ungkapan adat
menganut paham “Duduak randah, tagak samo tinggi” yang berarti egaliter dan
horizontal dan Lareh Nan Panjang merupakan paham yang lahir dengan menganut
paham sistem demokrasi yang telah
terlebih dahulu muncul. Seperti yang berbunyi dalam ungkapan adat “Pisang
Sikalek kalek Hutan, Pisang Tambatu Nan Bagatah, Koto Piliang inyo bukan, Bodi
Caniago inyo antah” yang dalam bahasa Indonesia berbunyi “Pisang Mentah Hutan,
pisang batu yang bergetah, Koto Piliang dia bukan, bodi caniago dia tidak”.
Dengan adanya paham awal yang masing –
masing menganut paham hirarki dan egaliter. Mempengaruhi bentuk rumah gadang
yang dimiliki oleh keluarga atau kaum di Minangkabau. Sangat mudah dilihat
perbedaan rumah gadang apabila dibedakan berdasarkan paham demokrasi yang
dianut. Paham sistem demokrasi Lareh Koto Piliang rumah adatnya bercirikan
adanya tingkatan – tingkatan (baanjuang) pada lantai rumah yang pada fungsi
masing – masing tingkatan menjelaskan kedudukan seseorang di keluarga atau
kaum. Semakin tinggi tempat duduk seseorang semakin tinggi kedudukannya. Contoh
yang dapat kita lihat jelas adalah ikon wisata Sumatera Barat, yaitu Istano
Basa Pagaruyung. Sedangkan paham demokrasi lareh Bodi Caniago bentuk rumah
gadangnya bercirikan lantai yang datar.
Gb. Rumah Gadang Lareh Koto Piliang
Ditandai dengan tingkatan pada lantai atau baanjuang
Gb. Rumah Gadang Lareh Bodi Caniago.
Ditandai dengan lantai yang sama datar.
Dengan adanya tipe rumah gadang yang dilihat dari
tipe atap dan bentuk struktur bangunan menambah kekakyaan khasanah ragam budaya
Minangkabau. Keragaman terjadi oleh faktor wilayah alam, hasil kebudayaan
hingga pengaruh kekuasaan yang terjadi pada masanya.
Pada masa lalu, atap rumah gadang dibuat dari bahan
ijuk, dinding, lantai dan tonggak diperoleh dari kayu yang berkualitas tinggi
untuk menjaga kualitas rumah gadang. Pada prosesnya, kayu yang dipilih direndam
dalam waktu yang lama di dalam lumpur untuk menjaga ketahanan rumah gadang.
Salah satu kayu dirumah gadang akan mendapat nama dan kedudukan istimewa.
Dikenal dengan “Tonggak Tuo” yang merupakan tonggak pertama yang diambil dari
sekian banyak tonggak yang akan menopang rumah gadang.
Selain memiliki keragaman dalam bentuk dan tipe.
Rumah Gadang juga memiliki ragam keunikan yaitu rumah tradisional ini tidak
memakai paku dalam menyambung kayunya, selain itu pada dasar rumah gadang
terdapat sandi dari batu yang bertujuan untuk membuat rumah gadang tahan akan
getaran. Keunikan ini merupakan hasil pemikiran nenek moyang untuk mampu
bertahan dari keadaan alam dan wilayah yang keras. Bentuk rumah gadang sangat
memperhitungkan penyesuaian dengan kondisi alam. Seperti harus tahan dari angin
(dapat dilihat pada konstruksi bangunan atap bagonjong dan kemiringan membangun
rumah gadang) serta memiliki aliran angin dibawah bangunan atau biasanya disebut
panggung yang juga dimiliki oleh banyak bangunan arsitektur tradisional
Indonesia lainnya. Selain itu untuk mampu menahan getaran (dapat kita ketahui
saat ini Sumatera merupakan jalur patahan lempeng terbesar di Indonesia) hasil
konstruksi rumah gadang adalah tidak adanyanya pemakaian paku dalam rumaha
gadang, cara yang dipakai adalah menyambung kayu untuk membentuk struktur
bangunan dan juga adanya pemakaian batu sebagai sandi dari tonggak penyambung
ke tanah yang bertujuan untuk menahan dari getaran. Yang telah menjadi hasil
penelitian dunia, bahwasanya rumah gadang merupakan arsitektur anti gempa.
Gb. Sandi Batu. Penopang tonggak rumah gadang
Dalam pembangunan rumah gadang, yang saya ketahui
biasanya melalui banyak proses yaitu musyawarah untuk merencanakan membangun
rumah gadang, melaksanakan gotong royong bersama mencari bahan, dan membangun
secara bergotong royong. Proses yang dilakukan melalui prosesi adat yang
berlaku.
Gb. Gotong Royong pembangunan rumah gadang. Prosesi
Batagak Tonggak Tuo
Selain mengandung fungsi, makna, dan filosofi dari
proses pembangunan. Tatacara ketika berada di rumah gadang sudah diatur dalam
adat Minangkabau. Salah satunya adalah posisi duduk ketika ada suatu prosesi
adat. Duduk dirumah gadang tidak boleh sembarangan, karena posisi – posisi
duduk telah diatur sesuai dengan kedudukan dalam sebuah keluarga atau kaum.
Rumah Gadang merupakan salah satu hasil peradaban
kebudayaan Nusantara yang menjadi poros terpenting yang membentuk masyarakat
Minangkabau. Rumah Gadang adalah rumah adat tradisional masyarakat Minangkabau
yang memiliki makna , filosofi, dan ilmu pengetahuan.
Gb. Prosesi Batagak Pangulu yang dilakukan di rumah
gadang.
Hingga saat ini, hampir disemua daerah di Sumatera
Barat (basis utama etnis minangkabau) masih bisa dijumpai rumah gadang tua yang
masih terjaga. Selain rumah gadang tua, kita juga masih bisa menemukan rumah
gadang dalam bentuk rumah gadang keluarga lama yang sebenarnya adalah rumah
tempat tinggal sebuah keluarga yang mengadaptasi bentuk rumah gadang seperti
yang banyak terdapat di Kabupaten Limo Puluh dan di Kota / Kabupaten Solok.
Gb. Deretan rumah gadang di Nagari seribu rumah
gadang kabupaten Solok Selatan.
Kondisi rumah gadang saat ini sebagai salah satu
poros terpenting yang membentuk masyarakat Minangkabau sudah mulai
ditinggalkan, sama halnya dengan kondisi rumah tradisional yang terdapat di
seluruh Indonesia. Dengan berbagai factor rumah tradisional sudah mulai
perlahan hilang, mulai dari susahnya mencari bahan, biaya perawatan, kerumitan
hingga tergerus oleh perkembangan zaman.
Kata Kunci : Rumah Gadang, Minangkabau, Sumatera
Barat
Glossary :
- Gadang : Besar
- Kaum : Kelompok/Keluarga garis matrilineal
- Matrilinial : Garis keturunan berdasarkan garis keturunan ibu.
- Bundo Kanduang : Berasal dari kata Bundo artinya Ibu, kanduang artinya kandung. Yang berarti ibu kandung. Di Minangkabau setidaknya terdapat versi dari istilah Bundo Kanduang. Pertama Bundo Kanduang menurut cerita kaba, kedua Bundo Kanduang sebagai nama organisasi perempuan di Sumatera Barat dan ketiga versi masyarakat adat Minangkabau.
- Limpapeh : dalam artian harfiah adalah kupu – kupu yang berwarna putih
- Rangkiang : lumbung / tempat menyimpan padi di Minangkabau
- Surau : tempat mengaji dan belajar adat di Minangkabau
- Atok : atap
- Bagonjong : berbentuk seperti tanduk
- Tungkuih : bungkus
- Darek : merupakan wilayah inti gabungan dari tiga wilayah luak (luhak) yang disebut luhak nan tigo. Luhak adalah merupakan daerah awal bermukim / tanah asa (tanah asal)masyarakat dan daerah awal perkembangan peradaban adat dan kebudayaan Minangkabau
- Maharam : jongkok
- Ampek : empat
- Siba : pisah
- Anam : enam
- Batingkek : bertingkat
- Surambi : serambi
- Ciek : satu
- Duo : dua
- Papek : sejajar, berdekatan
- Batingkok : mempunyai kata dasar tingkok yang berarti tutup
- Limo : lima
- Rajo : raja
- Babandiang : (ber)banding
- Baanjuang : tingkatan lantai dalam satu level
- Kajang : anyaman dr bambu (daun nipah, mengkuang, dsb) untuk atap untuk pedati
- Padati : pedati
- Lareh : kata dasar yang dipakai untuk kalarehan (kelarasan)
- Tonggak Tuo : tonggak Pertama
- Nagari : desa
Sumber :
- http://www.goodnewsfromindonesia.org
- Asro Suardi. "Inventarisasi rumah gadang di Minangkabau".
- Asro Suardi. "Inventarisasi rumah gadang di Minangkabau".
- Amir .M.S. Masyarakat Adat Minangkabau Terancam
Punah. PT.Mutiara Sumber Widya.
- Ahmad DT.Batuah dan A.DT.Majoindo. Tambo Minangkabau
dan Adatnya. Balai Pustaka.
- Mahmoed.BA., A. Manan Rajo Pangulu. Himpunan Tambo
Minangkabau dan Bukti Sejarah.
- wikipedia
Rangkiang sebagai wujud Ketahanan Pangan Masyarakat Minang
Rangkiang dan Masyarakat Minangkabau
Rangkiang adalah lumbung padi atau tempat penyimpanan padi di Nagari Minang, yang pada umumnya dapat ditemui di halaman Rumah Gadang.
Rangkiang berasal dari kata Ruang hinyang, yang kemudian mengalami perubahan bunyi menjadi Rangkiang. Padi di dalam Rangkiang bernaung dibawah pengawasan Mamak atau Tungganai dalam suatu kaum, sedangkan kekuasaan penuhnya dipegang oleh Bundo Kanduang.
Gambar : rangkiang di komplek istano pagaruyung
Di Minangkabau, Rumah Gadang, Rumah Tradisional Minangkabau bangunnya tidaklah berdiri sendiri, namun juga mempunyai bangunan-bangunan lain disekitarnya.
Selain fungsi pangan, rangkiang juga berfungsi dalam hal memperindah tampilan Rumah Gadang itu sendiri.
Bangunan rangkiang juga mirip dengan rumah gadang, yaitu memiliki gonjong, beratap ijuk, bentuknya ramping, lebih kecil ke bawah dan besar ke atas. Untuk mengambil dan memasukkan padi ke dalam Rangkiang, dipergunakan sebuah tangga dari bambu. Dan tangga ini tidak menyatu dengan bangunan rangkiang sehingga bisa dipindah-pindahkan. Tangga ini biasanya disimpan dalam kandang rumah gadang.
Di Minangkabau ada banyak jenis rangkiang yang diberi nama sesuai dengan tujuan padi yang disimpan dalam rangkiang tersebut.
Menurut H. Djafri Dt. Lubuk Sati Dsn, ada 9 jenis Rangkiang, yaitu:
- Sitinjau Lauik atau “Kapuak Adat Jo Pusako”. Kegunaannya untuk hal-hal yang berkaitan dengan acara adat, spt mendirikan penghulu, kematian dan acara-acara adat lainnya.
- Mandah Pahlawan atau “Kapuak Tuhuak Parang”. Kegunaannya untuk makanan bagi para pejuang dan orang-orang yang berperang mempertahankan kampung dari serangan luar.
- Harimau Paunyi Koto atau “Kapuak Pambangunan Nagari”. Dana-dana serta keperluan untuk membangun ‘nagari’ semua diambil dari rangkian ini.
- Sibayau-bayau disebut juga “Kapuak Salang Tenggang”. Rangkiang ini dipergunakan untuk membantu orang-orang yang berada dalam keadaan kesempitan tau kekurangan.
- Sitangka lapa atau kapuak gantuang tungku. Isi rangkiang ini dipergunakan atau disiagakan untuk saat paceklik.
- Galuang bulek basandiang atau kapuak abuan penghulu. Isi rangkiang ini diperuntukkan bagi seorang penghulu dalam kaum tersebut dalam mendukung segala kegiatan dan aktivitasnya.
- Garuik Simajo Labieh atau kapuak abuan sumando. Orang sumando juga mempunyai abuan untuk kepentingan anak isterinya.
- Gadang Bapantang Luak kegunaannya untuk makanan harian anggota keluarga rumah gadang.
- Kaciak Simajo Kayo atau kapuak abuan rang mudo. Isi rangkiang ini digunakan untuk anak muda yang ada dalam rumah gadang seperti untuk keperluan biaya pernikahan.
- Rangkiang Sitinjau Lauik, yaitu tempat penyimpan padi yang akan digunakan untuk membeli barang atau keperluan rumah tangga yang tidak dapat dibikin atau dihasilkan sendiri. Rangkiang Sitinjau Lauik lebih ramping dari yang lain dan letaknya ditengah, diantara rangkiang lain.
- Rangkiang Si bayau-bayau. Inilah rangkiang tempat menyimpan padi yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari. Tipenya gemuk dan letaknya disebelah kanan.
- Rangkiang Si tangguang lapa. Rangkiang ini digunakan untuk menyimpan padi cadangan yang akan digunakan pada musim paceklik. Bentuknya persegi.
- Rangkiang kaciak. Rangkiang kaciak digunakan untuk menyimpan padi yang akan digunakan untuk bertanam pada musim berikutnya. Atapnya tidak bergonjong dan bangunannya lebih kecil dan rendah. Adakalanya berukuran bundar.
Banyaknya rangkiang serta dengan fungsi yang berbeda menunjukkan bahwa dahulunya masyarakat etnis Minangkabau adalah masyarakat yang sejahtera secara ekonomi. Ini bisa dilihat dari fungsi-fungsi rangkiang tersebut.
Rangkiang juga memperlihatkan bagaimana tingginya jiwa sosial masyarakat Minangkabau dahulunya. Ini terbukti dengan ada beberapa rangkiang yang difungsikan untuk keperluan masyarakat banyak.
-wikipedia
-infosumbar


























